Jadi Diri Sendiri dan Bangun Privilege Untuk Sukses Bersama ASUS VivoBook S14 S433

Kamu mungkin udah mengikuti isu-isu tentang privilege beberapa waktu ini di media sosial. Yah, intinya jalan sukses bagi anak keluarga sederhana atau bahkan kurang mampu lebih sulit dari anak keluarga kaya. Dan benar aja, aku ngerasain itu.

Aku adalah anak sulung dari keluarga yang gak bisa dibilang berada. Ayahku (pada saat itu) hanya seorang guru honorer yang udah belasan tahun belum diangkat jadi PNS juga—kalau sekarang alhamdulillah udah. Sedang ibuku hanya ibu rumah tangga yang harus bangun dini hari setiap hari untuk masak jualan–yang kemudian dititipkan ke warung-warung di kampung. Dengan kondisi yang seperti itu, aku yang anak pertama tentu memikul beban yang berat di pundakku.

Maka saat S1 dulu, semenjak awal kuliah, aku putuskan tuh untuk ngontrak satu rumah aja, bareng mahasiswa lainnya. Aku sengaja ngontrak rumah dari pada ngekos karena lebih murah. Yang paling untung itu, namanya juga hidup bersama, bisa nebeng makan kalau kiriman telat atau ngutang sama teman yang udah dekat. Eh.

Tapi memang pada hakikatnya hidup itu harus berjuang, bukan?

Meskipun udah berhasil kuliah di kampus favorit di daerah kami, kehidupan kampusku gak bisa dibilang mudah. Uang kiriman yang seringkali telat—dan aku tahu betul bahwa orang tuaku harus pinjam-meminjam ke tetangga untuk bisa mengirimkannya.

Aku putar otak, nyari cara gimana bisa hasilin duit. Maka aku apply deh beasiswa dan alhamdulillah diterima, hanya aja uangnya hanya lebih dikit dari total yang harus kukeluarkan untuk bayar uang semesteran.

Nah, beruntung banget aku punya hobi menulis, maka pada tahun ke-2 kuliahku (tahun 2011) aku mulai aktif mengirimkan cerita pendek (cerpen) ke koran lokal, alhamdulillah banyak yang terbit dan honornya bisa dipakai untuk keperluan harian selama kuliah.

Ah, kalau kuingat-ingat itu rasanya pengen senyum melulu. Awalnya cerpen-cerpen itu kutulis di kertas A4 dengan pena, setelah satu cerpen selesai, kutunggu senior di kontrakan selesai menggunakan komputernya untuk numpang ngetik—rasanya pengen banget beli laptop waktu itu, terutama karena setelah itu banyak teman pamer laptop ASUS-nya yang berbodi metal kinclong-kinclong dan keren itu, tapi apalah daya, butuh setidaknya hampir 100 cerpen terbit untuk bisa membeli laptop yang sama.

Nah, hasil ketikan dari numpang di PC senior itu pada akhirnya kubawa ke warnet dan kukirimkan ke media lokal–jangan tanya kenapa harus ke warnet karena belum banyak smartphone dan paket internet masih mahal pada saat itu.

Alhamdulillah setelah pengiriman yang ke sekian barulah cerpenku diterima untuk dimuat.

Senang? Ya jelas senang pakai banget. Alhamdulillah dapat honor 65 ribu rupiah per cerpen—yang gak bisa ditransfer jadi harus dijemput ke kantornya, karena gak punya sepeda motor jadinya aku berangkat dengan angkot, di mana aku seringkali tergencet saat si sopir bilang “bangku 5 geser… bangku 7 geser”.

Kehidupan S1-ku berlalu dengan begitu banyak perjuangan, bahkan kalau dituliskan bisa jadi satu novel!

Tapi yang berkesan sekali adalah saat bagaimana aku berusaha survive dengan keadaan. Temanku di jurusan S1 Teknik Mesin bahkan sering berseloroh “kenapa malah masuk teknik mesin, gak masuk Sastra Indonesia saja?”, aku kadang hanya menjawabnya dengan senyum. Meskipun mereka ada yang menganggap aku “menyimpang” dan mengataiku mahasiswa “sastra mesin”. Tapi hei, menjadi diri sendiri dengan memelihara hobi itu adalah hak asasi manusia, dan aku senang dan bahagia aja tuh menjalaninya.

Sebagai anak sulung, tentu aku harus punya visi yang kuat. Seseorang harus bisa sukses meski  minim privilege. Hingga akhirnya aku berhasil wisuda pada Mei 2015. Itu adalah kali pertama, di usia dewasa, kupeluk ibu dan ayahku. Saat itu ibuku menangis karena tidak bisa masuk ke ruangan wisuda sebab tersesat dan salah pilih jalan/rute di luasnya kampusku.

Jadi menurutku, privilege itu bukan semata urusan nasib, tapi ia bisa dibangun. Aku pernah punya teman sekelas waktu S1 yang sudah dibekali mobil pribadi untuk ke kampus oleh keluarganya, tapi pada akhirnya ia berhenti di jalan. Gampangnya, aku ingin bilang, privilege tidak satu-satunya hal menentukan kesuksesan.

Masih Jadi Freelancer Bahkan Setelah Lulus S3

Beberapa waktu yang lalu, profesor pembimbingku mengirimkan sebuah pesan teks melalui WhatsApp: “Fadli apa kegiatan rutin sekarang?”. Kujawab dengan sebuah pesan yang intinya “Cuma bisnis online untuk memenuhi kebutuhan harian”. Sejurus aku merasa malu, sudah lulus S3 dan dapat gelar doktor kok malah bisnis online.

Tapi tunggu dulu,… sebagaimana ada banyak jalan ke Roma, ada banyak cara juga untuk menyambung hidup atau memenuhi kebutuhan harian kita, bukan?

Aku pun menjadi freelancer bukan tanpa sebab. Semua bermula karena rencana yang gak berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam rencanaku, aku harusnya tamat S3 pada Agustus 2019 karena beasiswaku habis di bulan itu, tapi ternyata gak mudah menyelesaikan disertasi berikut dengan syarat publikasi di jurnal Scopus-nya.

Aku udah yakin aja gak akan tamat tepat waktu, maka saat itu lah aku mulai aktif kembali menjadi blogger dan mencari peruntungan di sana. Alhamdulillah, dari aktivitas ngeblog aku bisa memenuhi kebutuhan kami (aku dan istri) meskipun baru sebetas kebutuhan pokok. Hanya saja, memang waktuku bersama laptop harus lebih lama, bahkan masih “bekerja” di malam hari hingga gak jarang begadang pula.

Kebutuhan yang semakin banyak dan biaya hidup yang semakin naik memaksaku harus mencari sumber penghasilan lainnya. Maka mulai di awal Juni, aku buka jasa pembuatan landing page, kamu bisa mengintip jasaku ini di LamanKu.id. Kalau mau pesan juga boleh. *uhuk.

Tampilan website bisnis saya, LamanKu.id / ASUS VivoBook S14 S433 Indie Black

Orang mungkin berpikir enak sekali jual “page” doang bisa dapat ratusan ribu sekali pesan. Tapi gak banyak orang yang tahu bahwa setiap bisnis menuntut effort.

Kalau sebatas ngeblog, aku hanya butuh buka aplikasi word processor, dan mungkin sesekali buka software desain grafis untuk buat infografis. Tapi ketika buka jasa landing page itu, aku jadi harus belajar lagi tentang CSS, HTML dan Javascript. Selain itu, aku harus memutar otak dan membolak-balik buku untuk menuliskan copywriting yang menjual.

Udah gitu, laptopku sering tegang-tegang karena gak kuat multitasking untuk membuka software text editor, word processor, browser, software desain berbasis vektor, software desain berbasis bitmap dan apalagi kalau harus memutar audio sambil bekerja. Sepertinya aku memang butuh laptop yang lebih mumpuni untuk meladeni kebutuhanku untuk multitasking.

Dan jika kamu tanya laptop apa yang menjadi impianku, maka akan aku jawab ASUS VivoBook S14 S433.

Kalau tentang alasannya, setelah ini kita bahas ya.

Jadi Diri Sendiri dan Bangun Privilege dengan ASUS VivoBook S14 S433

“Dari tadi sebut-sebut privilege, memang privilege itu apa sih?”

Sederhananya, buat yang belum familiar, privilege adalah hak istimewa. Misal kalau kamu dilahirkan di keluarga yang berada, orang tuamu bisa menyekolahkanmu di tempat terbaik, ikuti les atau kursus terbaik dan sebagainya, sehingga jalanmu untuk sukses di masa sekolah jadi lebih mudah. Dengan kata lain hak istimewa ini bisa jadi modal.

Tapi ada satu hal yang kadang luput dari perhatian orang yaitu hak istimewa gak didapat begitu saja, melainkan mesti dibangun. Pun jika ada seorang anak yang dapat privilege dari orang tuanya yang kaya, orang tuanya sebelumnya juga pasti berjuang. Kita pun, kalau mau sukses, juga harus bangun privilege itu.

Sukses menjadi orang baik misalnya, ya bangun hak istimewa dengan tinggal di lingkungan orang-orang baik. Begitu pula dalam hal-hal lainnya.

Termasuk ketika ingin sukses bekerja, jadi diri sendiri dulu dan bangun privilege. Contoh privilege yang bisa dibangun untuk sukses bekerja ini salah satunya adalah membekali dirimu dengan perangkat terbaik untuk bekerja. Khususnya jika kamu butuh laptop untuk bekerja maka pilihlah laptop istimewa untuk bisa membantumu mencapai kesuksesan. Beruntung, ASUS VivoBook S14 S433 punya berbagai keistimewaan itu sehingga menjadi kandidat terbaik untuk membangun privilege-mu.

Apa saja yang istimewa dari laptop ini? Yuk kita bahas.

Dapur Pacu yang Mumpuni untuk Tugas Ganda

Penyematan prosesor 10th Intel Core, tepatnya Core i5-10210U dan Core i7-10510U, pada papan induk ASUS VivoBook S14 S433 menurutku jadi keistimewaan yang perlu di-mention di awal, karena gimana pun prosesor itu core of the core-nya suatu laptop.

Prosesor Intel generasi ke-10 ini memiliki kelebihan pada performa yang lebih baik dan penggunaan daya yang hemat. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengujian benchmark Cinebench R20 dan PCMark 10, di mana ASUS VivoBook S14 S433 mendapatkan skor yang cukup tinggi dan sangat cocok untuk keperluan sehari-hari.

Hasil Pengujian Benchmark

Kinerja laptop ini semakin optimal dengan RAM DDR4 8GB ditambah SSD 512GB khusus dari Intel dengan 32GB memori Optane. Memori Optane ini dapat digunakan sebagai memori cache sehingga kinerja SSD nya semakin cepat. Di samping itu, keberadaan kartu grafis NVIDIA GeForce MX250 membuat laptop ini bisa berlajan dengan sangat baik bahkan untuk bermain game esport atau pun genre lainnya. Intinya, dapur pacu VivoBook S14 S433 bisa diandalkan untuk keperluan tugas ganda (multitasking).

Pilihan Warna Menawan, Memanjakan Mata

Apa yang kamu pertimbangkan ketika ingin memilih warna sebuah laptop? Pasti tidak lepas dari warna yang kamu sukai. Sadar tidak sadar, warna yang kita pilih mewakili atau mengekspresikan diri kita lho. Kabar baiknya, VivoBook S14 S433 hadir dengan pilihan warna menawan yang eye catching dan anak muda banget.

Ada 4 pilihan warna laptop VivoBook S14 ini, yaitu Gaia Green, Resolute Red, Dreamy White dan Indie Black. Gaia Green dan Resolute Red sangat cocok banget tuh dengan kamu yang punya kepribadian berwarna karena kedua warna ini eye catching banget. Sedangkan Dreamy White dan Indie Black cocok buat kamu-kamu yang kalem dan ingin desain yang elegan.

Sentuhan personal VivoBook S14 S433 tidak hanya pada warnanya lho. Tetapi adanya “ruang kosong” atau “negative space” yang disengaja pada bagian belakang layar memungkinkan kamu menempelkan stiker menarik di sana. ASUS sendiri bahkan bekerja sama dengan seniman visual asal Jakarta, Muchlis Fachri (Muklay), untuk menghadirkan stiker-stiker kreatif yang keren. Stiker ini bisa kamu dapatkan dalam paket penjualan VivoBook S14 lho.

Keistimewaan desain dan pernak-perniknya ini menjadikan ASUS VivoBook S14 S433 laptop paling trendy dengan performa atau dapur pacu yang mumpuni.

Desain yang Modern dan Ringkas, Enak Dibawa ke Mana Saja

Buat kamu yang punya mobilitas tinggi, ASUS VivoBook S14 S433 sangat cocok untuk jadi teman harianmu. Pasalnya, bobot laptop ini tuh hanya 1,4 kilogram, sedangkan ketebalannya hanya 15,9 mm. Ringan dan ringkas sehingga mudah dibawa ke mana saja.

Desain bezel yang tipis juga memberikan kesan modern pada laptop kekinian ini. Teknologi NanoEdge Display membuat screen-to-body ratio si stylish ini mencapai 85%. Layar ASUS VivoBook S14 yang berukuran 14 inci tampak lebih lega sehingga pengguna dapat menikmati konten yang lebih immersive. Hal itu semakin sempurna dengan sudut pandang layar yang lebar mencapai 178 derajat.

Satu lagi inovasi yang menurutku sangat cerdas, yaitu aksen warna kuning yang diberikan pada tombol Enter. Aku tuh gak nyangka aja, sentuhan kecil ini bisa membuat si keyboard jadi menarik dan nyaman dipandang mata. Belum lagi ada fitur backlit keyboard dan tuh si papan ketik juga punya resistansi terhadap percikan air lho. Plus desain ErgoLift yang bisa memberi pengalaman ketik-mengetik yang lebih baik.

Fitur Premium yang Memanjakan

Sebelumnya aku udah bilang kalau ASUS VivoBook S14 S433 ini dibekali backlit keyboard yang menjadi ciri khas laptop premium. Adanya backlit keyboard ini membuat kita bisa bekerja di ruang temaram atau minim cahaya. Misalnya saat lagi nongkrong untuk menyuruput secangkir kopi sambil bekerja di cafe atau di tempat manapun.

Selain backlit keyboard, fitur premium lain yang disematkan pada ASUS VivoBook S14 S433 adalah fingerprint sensor di sudut kanan atas touchpad-nya. Sensor sidik jari ini dapat terintegrasi dengan Windows Hello yang merupakan fitur yang bisa mempermudah login di Windows 10. Bisa login tanpa harus mengisi password.

Yap, laptop ini dibekali dengan Windows 10 Home original. Ada satu lagi nih yang menarik, yaitu fitur audio premium bersertifikasi harman/kardon. Kualitas audio perangkat ini tidak perlu diragukan sehingga sangat cocok untuk membuat hari-hari kita berwarna–seberwarnanya varian ASUS VivoBook S14 S433 ini.

ASUS VivoBook S14 S433 dengan beberapa fitur utama

Konektivitas Lengkap Untuk Berbagai Kebutuhan

Buat kamu yang butuh untuk selalu tersambung dengan dunia luar, kamu tidak perlu khawatir. ASUS VivoBook S14 S433 udah dibekali teknologi komunikasi data nirkabel generasi terbaru yaitu WiFi 6 (WiFi 802.11ax) yang memungkinkan koneksi 3x lebih cepat dari generasi sebelumnya. Konektivitas si stylish ini tentu bukan itu aja, masih ada Bluetooh 5.0 (Dual band) 2*2 untuk konektivitas nirkabelnya.

Sementara untuk port input/output-nya ada 1x USB 3.2 (Gen1) Type-C, 1x USB 3.2 (Gen1) Type-A, 2x USB 2.0 Type-A, HDMI, Audio Jack serta MicroSD card reader. Beragam port ini bisa kamu gunakan untuk menghubungkan perangkat lain untuk menunjang pekerjaan dan hiburan menjadi lebih baik.

Beragam Konektivitas ASUS VivoBook S14 S433

Baterai yang Tahan Lama dan Fast Charging

Aku yakin, kamu pun setuju bahwa laptop yang secara performa sudah baik dan desain menarik akan percuma kalau tidak didukung dengan sumber daya yang optimal. Pasalnya, penggunaan laptop saat ini gak semata buat mengetik doang. Berbagai tugas dan kebutuhan multimedia membuat daya laptop cepat terkuras. Namun kamu tidak perlu khawatir itu terjadi pada ASUS VivoBook S14 S433 karena laptop ini sudah dibekali baterai yang tangguh.

VivoBook S14 S433 ini menggunakan baterai 3-cell Li-Ion 50 Whrs, lebih besar dibandingkan dengan laptop sekelasnya. Sudah gitu, penggunaan daya akan semakin optimal karena adanya prosesor Intel generasi ke-10 yang teruji hemat menggunakan daya. Hal ini terbukti setelah dilakukan pengujian menggunakan PCMark 10 Battery pada mode Modern Office. Hasil uji menunjukkan bahwa baterai ASUS VivoBook S14 S433 mampu bertahan selama 12 jam.

Pun kalau baterai ASUS VivoBook S14 S433 habis, kamu tidak perlu khawatir kok, karena ada fitur fast charging di mana daya dapat terisi 60% dalam waktu pengecasan selama 49 menit saja.

Hasil uji ketahanan baterai dengan PCMark 10 Battery

Masa Garansi yang Panjang

Pengguna ASUS VivoBook S14 S433 ini juga tidak perlu khawatir karena ASUS memberikan garansi yang panjang untuk produk ini. Hebatnya, garansi yang diberikan adalah garansi global, sehingga kita bisa mendatangi atau menghubungi service center ASUS mana pun juga.

Baca juga : Tanya Veronika Asisten Virtual, Terobosan Keren dari Telkomsel

Bangga Menjadi Diri Sendiri adalah Salah Satu Ciri Kesuksesan Sejati

Kadang tuh ya, aku suka kesal baca-baca postingan tentang privilege di media sosial atau di manapun. Untuk kamu yang sedang baca tulisan ini, aku saranin, berhenti membaca materi tentang itu karena unfaedah dan hanya mengecilkan semangatmu.

Sebagaimana yang kubilang tadi, privilege itu bisa dibangun, tapi sebelum membangun itu semua, kita harus bangga menjadi diri sendiri.

Banggalah meski terlahir dari keluarga seperti apa pun. Mungkin garis start setiap kita berbeda, tapi kita punya waktu yang sama untuk berjuang mencapai kesuksesan. Semangat yang sama itulah yang agaknya dibawa ASUS dalam VivoBook S14 S433 ini dengan tagline-nya #DareToBeYou.

Vendor asal Taiwan ini menyelipkan pesan bahwa setiap kita mesti bangga menjadi diri sendiri dan berani menghadapi tantangan. Lalu pertanyaannya, tantangan seperti apa yang hari ini kita, terutama kawula muda, hadapi?

Beberapa waktu yang lalu orang-orang sibuk dengan literasi industri 4.0 dan kini kita udah berada di dalamnya. Saat ini dunia sedang menuju industri 5.0 dan tentu saja keterikatan dengan perangkat teknologi informasi dan jaringan akan lebih kuat. Akan banyak profesi-profesi baru yang muncul atau pekerjaan yang telah ada namun dapat dikerjakan di mana saja.

Semuanya bahkan udah dimulai saat ini kok. Contohnya ceritaku yang saat ini terjun sebagai internet marketer dan jutaan orang lainnya yang sudah berkerja dari mana saja.

Aku yakin kalau kamu juga udah memikirkan hal ini, oleh karena itu siapkan dirimu, bekali dengan perangkat terbaik di kelasnya. Bangun privilege-mu sendiri. Dan ASUS VivoBook S14 S433 ini sangat cocok untuk menemani harimu dalam mencapai kesuksesan itu. Semoga kita bisa sama-sama sukses ya, karena kita, kawula muda, adalah harapan bangsa.[]

30 thoughts on “Jadi Diri Sendiri dan Bangun Privilege Untuk Sukses Bersama ASUS VivoBook S14 S433”

  1. Review-nya garang nih. Saya dari sono juga sering pake Asus. Bawaannya memang bandel sih, dan tahan banting juga. Soal tahan banting ini sy ada pengalaman, ga sengaja laptop asus dlu kesenggol n jatuh. Bunyinya prak…Kirain dah rusak, pas diidupin lagi ternyata masih siuman. Oleh saya tak jual, masih dapat harga mahal waktu itu. Sekarang masih pake asus juga, dibeliian sama kantor. Kalau sekadar buat nulis mah, memang asus pilihan yang amat baik menurutku. Kalau yang seri ASUS VivoBook S14 S433 harus nunggu dompet terisi dulu. Kira-kira butuh berapa lembar duit merah nih?

    Reply
    • Wow review nya mantul syekali Kakak… Laptop ASUS yang satu ini emang cocok banget buat kawula muda. Mulai dari desain, warna, fitur kekinian dan ada tambahan sticker.

      Privilege bisa dibangun ya, tapi nasib gak bisa diubah,

      Reply
      • Baterenya tahan lama ya Uda.. belum lagi bodinya tipis ditambah bobotnya yang terbilang ringan. Ini membuat emak-emak bisa bawa peralatan perang lainnya kalo keluar bawa Vivobook ini..

        Reply
      • Iya saya sering sekali baca istilah privilege, tapi memang privilege ini banyak memberikan kemudahan bagi pemiliknya.

        Oya laptop asus ini memang keren banget, fiturnya canggih, warnanya juga elegen. Sangat cocok bagi jiwa muda

        Reply
    • kok saya nangis ya uda baca tulisan ini. bener bener kisah anak sukses zaman now. kebanyakan emang hidupnya pas pasan waktu kecil. udah gede jadi orang sukses dan berada. Semoga uda selalu sukses ya. Banyakin sedekah ilmu. biar makin lancar jaya rejekinya. kenapa aku skrg jadi mengidolakanmu ya…. saingan sama mbak rini celotehdirihari nih. hehe

      Reply
      • Alhamdulillah mbak. Aamiin ya Rabb, kadang kisah hidup yang “pahit” bisa juga disebut privilege untuk bisa tumbuh kuat dan survive di kerasnya kehidupan. Terima kasih sudah mengidolakan junior mu yang rekam jejak dan mainnya belum sejauh dirimu, Mbak 😀

        Reply
  2. Pak Fadli sungguh menginspirasiku. Aku tidak menyangka seorang lulusan S3 mau terjun di dunia freelancer. Dunia yang dipenuhi dengan ketidakpastian dan masa depan suram. Sekali lagi, mantap pak 👍

    Reply
  3. Asus ini yang saya tahu memang banyak banget penggemarnya yaa bang Fadli. Untuk yang sekarang pun sudah mulai ringan, dan performanya jangan ditanya lagi. Naksir sama laptop warna hijau. Saya baru tahu kalau stiker asus memang hits banget yaa. Mantap reviewnya lengkap dan tajam, semoga menang yaaa aamiin

    Reply
  4. Keren banget sih uda, review dan tampilannya. Jadi makin mupeng dengan Asus VivoBook s14 s433 ini. udah ringan, kecepatan maksimal, udah intel generassi 10. Ah, keren banget.

    Reply
  5. Duuuuh aku terpesona sama desainnya. Tipis, ringan dengan warna-warna yang cantik
    Performanya kece punya deh pokoknya. Aku gak nolak klo ada yang mau ngasi hadiah laptop keren ini

    Reply
  6. Tulisan yang menarik. Btw, ini laptop emang impian banget untuk banyak orang. Saya sih paling suka sama desainnya yang kelihatan ringkas tp ttp tampil mencolok, belum lg speknya yg garang. Nice

    Reply
  7. Sastra Mesin. Hehe… Iya salut sama Uda. Sudah S3 tapi berani jadi freelancer. Sebuah pilihan yang tidak mudah bagi mereka yang punya ego. Semoga sukses ya Uda…

    Reply
    • Itu lah Bang, tapi kalau ada panggilan untuk mengajar, tentu mengajarkan ilmu yang sudah didalami di kampus adalah tanggung jawab juga. Karena belum ada panggilan, kerjakan apa saja selama halal dan baik urusannya

      Reply
  8. Kalau ada rezeki belinya mau yang dreamy white aja aah. Hahaha udah kayak milih kacang yah.
    Belum pede maju lomba, berdoa biar bisa beli gapapa lah yaa hehe.
    Good luck kak jadi freelancer yang kerenn.

    Reply
  9. Kalau bagi saya, yang penting itu baterai dan ada fast chargingnya. SOalnya saya suka lupa mengisi daya.

    Reply
  10. iya udaaa,, hidup emang hakikatnya buat berjuang, berjuang saat jadi pelajar, berjuang di pekerjaan, juga berjuang buat bisa bawa pulang 1 laptop ini. bismillah ya semoga bisa dapat 1 unit asus vivoobook ini. bantu doa yaa udaaa fadleehh 🙂

    Reply
  11. Sebagai anak pertama aku juga merasakan bebabn yang sama. Hihihi. Namun aku tidak selihai kakak. Jadi konten writer malah baru baru ini. Kadang suka nyesal kenapa dulu lalai. Namun, selalu ada hikmah yang bisa dipetik setiap momen. Bersyukur aja. Btw, terimakasih sudah share kisah inspirasinya. Semoga menang kak.

    Reply
  12. Ya Allah berasa terhura nih baca Quote ini “Mungkin garis start setiap kita berbeda, tapi kita punya waktu yang sama untuk berjuang mencapai kesuksesan. ” jadi semangat lagi mengejar ketertinggalan.

    Palagi pakai asus vivobook ya uda, bisa nih dibawa ngebut. Performa & fiturnya oke banget

    Reply
  13. Review-nya mantul syekali kakak. Intinya setiap dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk bisa jadi orang sukses ya, meski setiap garis start berbeda… Mantul laptop-nya, mantul review-nya.

    Reply
  14. Dijaman sekarang freelance memang pekerjaan yang banyak dicari apalagi menggunakan laptop Asus.

    Reply

Leave a Comment

error: Content is protected !!